Siswa Manja

Di dalam setiap jenjang pendidikan biasanya terdapat berbagai macam kesukaran atau kendala dari diri siswa. Problem tersebut tentu saja dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar di dalam kelas. Problematika di dalam kelas itu muncul karena situasi, kondisi temperamen dan karakter  anak didik kita di kelas yang tidak sesuai dengan jenjang pendidikan siswa tersebut.

Salah satu dari sekian situasi, kondisi, temperamen dan karakter anak didik yang dapat menjadi kendala bagi proses belajar mengajar di kelas itu  adalah sifat manja siswa, yang pada gilirannya  dapat mengganggu atau memengaruhi hasil belajar siswa manja tsb. Seharusnya dan sewajarnya, sifat manja siswa tersebut harus sudah pupus begitu dia meninggalkan pendidikan anak usia dini (PAUD), taman kanak-kanak (TK), play group dan sekolah dasar. Namun pada sebagian kasus, anak manja tersebut masih tetap manja meskipun dia telah menjadi pelajaran sekolah lanjutan tingkat pertama dan tingkat atas (SLTP/SLTA).

Ternyata kasus siswa manja tersebut bisa muncul karena, paling tidak, terdapat dua pengaruh kuat yang tidak dapat (atau: tidak mau) ditaklukan oleh anak tersebut, yaitu sifat atau karakter manja yang muncul dari dalam jiwanya sendiri, dan pengaruh manja yang ditanamkan dari lingkungan keluarganya (ayah, ibu, paman, bibi, kakak, kakek, dan nenek). Celakanya, anggota keluarga itu terus menerus memanjakan anak-anaknya meskipun sudah harus menghadapi masa remaja atau dewasa.

Secara Sosiologis, sifat manja siswa di dalam kelas dapat menciptakan suasana yang tidak harmonis di antara para siswa dengan siswa manja tersebut, dapat dikatakan bahwa kehadiran siswa manja di dalam kelas akan menciptakan kecemburuan sosial antar siswa yang bersangkutan. Kecemburuan sosial di negeri ini masih merupakan pemicu (trigger) bagi munculnya berbagai bentrokan, benturan dan gesekan antar anggota masyarakat, termasuk para siswa.

Secara Psikologis, kehadiran siswa manja di dalam kelas akan selalu menciptakan atau mengundang suasana hati (mood), pikiran dan perasaan yang childish atau kekanak-kanakan di antara teman-teman kelasnya. Suasana kelas akan seperti sebuah play group atau taman kanak-kanak; sifat dan perilaku siswa manja cenderung tidak mau beranjak dewasa.

Secara Pedagogis, proses pendidikan akan selalu memperoleh kendala jika di dalam kelasnya terdapat anak manja, terutama kendala di dalam proses belajar mengajar. Pendidik harus memberikan perhatian dan pelayanan ekstra terhadap siswa manja, agar siswa tersebut tidak manja lagi dan tumbuh menjadi siswa yang mandiri, sementara di dalam memberikan perhatian dan pelayanan tersebut sang pendidik harus pandai-pandai mengatur strategi agar perhatian dan pelayanan pendidik tersebut tidak menonjol dan tidak memicu ketimpangan perhatian terhadap siswa lainnya.

Banyak cara orang tua memanjakan anak-anaknya; banyak alasan pula mengapa mereka memanjakan putra-putrinya. Memanjakan anak bisa dilakukan dengan berbagai macam cara, misalnya:

  1. Melindungi anak dari segala macam bahaya,
  2. Memenuhi segala macam keinginan anak,
  3. Membiarkan anak bebas berbuat apa saja,
  4. Membela anak jika bertengkar atau bermasalah dengan anak-anak lainnya,
  5. Memuji dan membangga-banggakan anak kepada orang lain di hadapan anak tersebut,
  6. Selalu memberi hadiah dengan barang dan benda mahal, dan lain-lain.

Melindungi anak

Melindungi anak dari segala macam bahaya atau ancaman itu memang baik, terutama jika anak itu bermain api (korek api, lilin, kompor); benda tajam (pisau, obeng, gunting, jarum); bermain di tepi sungai atau kolam yang dalam; bermain di jalan raya; dan bermain dengan binatang buas (berparuh, bertaring dan berkuku tajam). Pokoknya kita memang berkewajiban melarang anak bermain-main dengan bahaya atau mengancam keselamatannya. Sebagai orangtua, kita juga wajib melarang anak-anak mengendarai sepeda motor, apalagi jika tanpa mengenakan helm.

Namun, adalah sikap yang tidak mendidik seandainya kita selalu menguntit anak kita ke mana pun dia pergi, melarang dia berlari ke sana ke mari, naik pohon, bergelantungan, dan berayun hanya karena mengikuti perasaan khawatir kita seandainya anak itu jatuh dan kesakitan. Cara memanjakan seperti ini tidak baik karena termasuk sikap orangtua yang  over protective (terlalu melindungi). Orangtua yang over protective pada anaknya, mengakibatkan anak tersebut kelak kemungkinan akan menjadi anak manja yang penakut, pemalu, gelisah dan kurang pergaulan atau tertutup.

Anak manja yang dibesarkan dari keluarga yang over protective akan menciptakan anak yang tumbuh solitaire dengan pikiran, perasaan dan perilaku yang tidak memiliki kepercayaan diri, dan tidak memiliki keyakinan atau penuh curiga.

Memenuhi segala keinginan anak

Adalah baik dan sangat mendidik jika memenuhi segala macam permintaan anak itu  berkaitan erat dengan sarana-prasarana pendidikan– misalnya membelikan alat-alat tulis, buku pelajaran (diktat), lembar kerja siswa (LKS) atau mengikuti kursus– karena itu berarti orangtua mendukung kemajuan pendidikan anaknya. Akan tetapi,  jika orangtua memenuhi segala keinginan anak yang hanya berhubungan atau berkaitan dengan hiburan, tontonan, jajanan dan permainan, maka itu sikap memanjakan yang sangat tidak baik. Dampak negatifnya adalah anak tersebut akan malas belajar dan malas bekerja, karena hiburan, tontonan, permainan dan jajanan tersebut tidak pernah mendidik anak untuk berpikir dan bersikap mandiri. Anak-anak yang dimanja dengan hiburan, tontonan, game atau play stations dan jajanan yang serba praktis akan membuat anak tidak menyukai proses, serta berjiwa instant.

Generasi muda bangsa ini diejek orang sebrang dengan julukan instant generation atau muda-mudi siap saji karena sejak kecil anak-anak kita dididik dengan berbagai produk yang sangat praktis: tinggal makan, tinggal minum, tinggal pakai, tinggs pijit dan tinggal tonton. Artinya, anak-anak tidak pernah kita didik untuk menguasai proses (apalagi proses kreatif!), segalanya tinggal beli, sehingga anak-anak kita mengidap dua sikap labil yang bertentangan satu sama lain: di satu sisi dia jadi mata duitan karena segala hal harus dibeli dengan uang, di sisi lain dia jadi malas karena segala hal bersifat instant!

Penulis makalah ini pernah membaca “status” sebuah face book teman yang bunyinya kira-kira sama dengan membebaskan anaknya sekehendak hatinya, dan sebagai ayahnya dirinya merasa sangat bangga jika anaknya suka mengutak-atik motornya yang (celakanya!) dia samakan dengan bentuk kreativitas remaja masa kini. Bongkar-pasang barang jadi dengan mencampur barang jadi lainnya, bukanlah bentuk kreativitas atau modifikasi, tetapi merupakan kegiatan instant!

Membiarkan anak bebas

Orangtua yang membiarkan anaknya berperilaku semau gue tanpa melarang, padahal perilakunya itu melanggar adab dan sopan santun, sama saja dengan menjerumuskan anak di kemudian hari ke dalam perilaku asusila. Misalnya, ada orangtua yang memanjakan anaknya dengan membiarkan saja anaknya menghina anak lain; ada orang tua yang memanjakan anaknya dengan membiarkan anaknya kikir, pelit dan licik (cheat like a fox) kepada anak lainnya; ada orangtua yang tidak mendidik anaknya untuk memanggil “kak” atau “mbak” kepada orang yang lebih dewasa dari dia; artinya orangtua itu membiarkan anaknya memanggil orang dewasa dengan namanya! Ada juga orangtua memanjakan anaknya dengan cara serba boleh atau permissive. Lucunya, ketika kita sebagai tetangganya menegur orangtua memanjakan anaknya itu sebagai kurang baik, eh, malah tetangga itu memusuhi kita!

Orangtua yang bersikap permissive kepada anak-anaknya akan menumbuhkan anak menjadi gangster, anarchistist, hedonist, dan barbaric; senang melanggar disiplin dan tata tertib, menentang aturan, membangkang terhadap guru dan orang tua, serta tidak punya sopan-santun atau tidak beradab, dan tidak beradab sama dengan biadab!

Membela anak

Pertengkaran atau “marahan” antara anak-anak itu sudah biasa terjadi, karena sebentar lagi juga mereka akan akur kembali. Akan tetapi banyak orangtua membela dan memihak  anaknya mati-matian seraya menyalahkan anak yang lain. Jika orang tua membela anaknya dalam pertengkaran itu, maka cepat atau lambat anak itu akan kehilangan kepercayaan dirinya, dia akan sangat tergantung pada keberadaan orangtuanya, dia akan menjadi anak pengecut, cengeng dan penakut. Dia akan terbiasa hidup tidak objective, tidak fair, kikir, licik dan picik (cheat), dan hanya mau menang sendiri alias egoists.

Membela anak dalam pengertian demi mencari kebenaran dengan niat meluruskan masalah, adalah sangat bijaksana, akan tetapi jikalau campur-tangan orangtua berdasarkan memanja anaknya sehingga lebih memihak, membela serta membenarkan kesalahan anaknya, maka itu adalah uneducated intervention campur-tangan yang sangat tidak mendidik.

Kesalahan anak yang dibela atau dibenarkan orangtua (apalagi jika di depan orang banyak!), selain menciptakan anak yang manja, orangtua tersebut juga (disengaja atau pun tidak) telah menciptakan generasi muda yang maunya menang sendiri. Sikap memanjakan seperti itu akan melahirkan generasi masa depan yang dictator, tyrant, atau sebuah absolute regime yang bengis tak terbantahkan. Anak tersebut tidak akan mudah menerima usul, teguran, kritik dan saran dari orang lain. Dia akan selalu merasa bahwa   semua pikiran, perasaan dan pendapatnya sempurna!

Memuji anak

Jika prestasi belajar anak  itu betul-betul hebat, maka orang tua boleh saja memuji dan membanggakan anaknya secara wajar. Kebanggaan yang artinya mensyukuri prestasi anak. Namun jika prestasi anak itu biasa-biasa saja, sebaiknya orang tua tidak perlu (bersandiwara) memuji anak itu secara berlebihan, apa lagi jika pujian setinggi langit itu disampaikan di depan anak tersebut. Pujian yang disampaikan secara langsung, umum dan terbuka  bisa mengakibatkan anak itu merasa cukup puas hanya dengan prestasi yang biasa-biasa itu. Anak yang manja itu semakin tampak tidak punya semangat bersaing sama sekali. Boleh jadi, dia sudah merasa puas dengan pujian semu.

Orangtua yang gemar memanjakan anaknya dengan puji-puji kosong, sebaiknya sadar bahwa “di atas langit masih ada langit”. Jika prestasi biasa-biasa dipuji setinggi langit, anak manja tersebut akan sangat kecewa jika mengetahui bahwa ternyata prestasi sesungguhnya harus diraih lebih dari yang dia peroleh.

Kebiasaan memanjakan anak dengan puji-pujian kosong sama dengan membohongi diri, yang pada akhirnya bisa memengaruhi keyakinannya pada prestasi yang sesungguhnya berat dan perlu perjuangan proses yang panjang. Orangtua yang membanggakan anaknya dengan pujian kosong akan melahirkan generasi muda yang megalomaniac (gila sanjungan atau gila hormat), feudal (bermental priyayi), dandy dan snobbish. Manusia bermental seperti tersebut akan tersinggung dan sakit hati kalau gelar bangsawan, gelar akademik dan gelar keagamaannya tidak disebut-sebut orang di depan atau belakang namanya!

Memberi hadiah

Memberi hadiah karena anak tamat menjalankan ibadah puasa atau karena naik kelas ke tingkat yang lebih tinggi, merupakan sikap yang baik jika hadiah itu bermanfaat bagi perkembangan pendidikan anak. Namun jika hadiah itu harganya mahal — misalnya Play Station 2 atau mobile phone jutaan– yang  tidak ada kaitannya dengan pendidikan, maka hadiah yang mahal itu selain membuat anak malas belajar juga bisa mengakibatkan anak itu menjadi tidak peka terhadap penderitaan atau ketidak-mampuan orang lain. Anak yang dibiasakan hidup bergelimang kemewahan akan kehilangan rasa charity dan solidarity-nya terhadap anak-anak lainnya yang tergolong fakir-miskin.

Akibat lain dari kebiasaan memanjakan anak adalah perkembangan jiwa anak menjadi tidak seimbang (labil), mudah goyah (fragile) dan fisiknya akan mudah sakit-sakitan. Anak manja biasanya akan memiliki sifat egois atau mementingkan diri sendiri, tidak memiliki rasa persaudaraan, dan juga kurang memiliki rasa harga diri dignity atau mudah frustrasi.

Di sekolah pun bisa kita perhatikan dengan mudah jika seorang anak itu manja, sebab selain ciri-ciri yang telah ditulis di atas juga terdapat gelagat lainnya yang mudah kita lihat. Misalnya selalu mencari perhatian teman-teman atau gurunya, selalu ingin diperhatikan dan diutamakan guru daripada murid lainnya, selalu ingin dipuji atau disebut-sebut namanya di depan kelas, selalu meminta tolong atau bantuan sekalipun pelajaran itu bisa dipikirkan dan dikerjakan sendiri.

Maka pada akhirnya anak yang manja biasanya ditandai dengan malas berpikir, malas belajar dan malas mengerjakan tugas motorist. Tidak memiliki inisiatif, tidak kreatif dan juga tidak bertanggungjawab. Anak manja akan terbentuk menjadi murid yang masa bodoh terhadap pelajaran di kelas atau lingkungan di sekolah. Dia akan menjadi murid yang mau menang sendiri atau keras kepala (stubborn). Tidak mau menerima kesalahan atau kekalahan. Kesalahan dan kekalahan selalu dilemparkan kepada fihak ketiga di luar dirinya sebagai penyebab kesalahan dan kekalahannya itu.

Oleh karena itu ketika anak manja tersebut menghadapi berbagai mata pelajaran yang diterimanya di kelas, maka dia menjadi murid yang sulit menerima pelajaran itu. Pelajaran yang diberikan gurunya di kelas menjadi beban yang sangat berat dalam pikirannya. Tiap soal yang diajukan guru membuat dia kehilangan kepercayaan diinya. Dia menjadi murid yang sangat tergantung pada teman-temannya. Terutama teman yang bersedia menolong dengan memberikan contekan.

Anak yang manja menjadi murid yang memiliki sifat mewah. Dia merasa bahwa bantuan temannya bisa dipikat, dibeli, ditukar, diganti atau dibayar dengan uang, makanan, dan barang yang dimilikinya. Sebaliknya, anak manja itu sendiri berubah menjadi objek murid-murid lainnya sebagai sumber makanan atau jajanan. Bila makanan dan jajanan itu habis atau tidak ada, maka dia pun dikucilkan teman-temannya.

Prestasi belajar anak manja tidak menonjol karena pikirannya tidak dilatih untuk berpikir. Nilai ulangan harian murid tersebut bisa saja baik, karena hasil menyontek dari temannya. Tetapi otaknya tetap dibiasakan untuk tidak digunakan sebagai alat berpikir. Sehingga ketika menghadapi ulangan atau ujian akhir, dicarinya berbagai cara agar bisa menyontek, termasuk merengek kepada orang tuanya agar turut membantunya memecahkan masalah itu dengan, tentu saja: uang!.

Orang tua yang sudah kepalang tanggung memanjakan anaknya, tidak akan segan-segan untuk menyuap guru, wali kelas atau kepala sekolah, atau siapa saja baik secara samar-samar maupun secara terang-terangan supaya tercapai segala tujuan yang ingin dicapai anak manjanya tersebut. Seperti halnya anaknya, orang tuanya pun tidak perduli pada dampak jiwa anaknya di masa depan, yang penting naik kelas atau lulus atau menduduki jabatan.

Di dalam kasus inilah nurani dan profesionalisme pendidik serta nama baik lembaga pendidikan itu dipertaruhkan nama baiknya. Selain menghadapi siswa yang dibesarkan dalam kemanjaan, juga menghadapi intervensi orang tuanya yang telah begitu banyak memberikan kelengkapan fasilitas sekolah, tetapi pada akhirnya sebagai imbalannya (karena maksud yang sebenarnya menyuap secara tersamar) dia meminta agar anaknya dinaikkan atau diluluskan.

Anak manja akan menjadi murid yang lebih mementingkan dirinya sendiri daripada kebersamaan atau kesetiakawanan dengan sesama murid di sekolah. Dia kurang memiliki rasa sosial, tapi malah memiliki sifat congkak dan tamak.

Anak manja juga kurang memiliki rasa tanggungjawab. Dia tidak mampu terlibat dalam proses belajar karena sudah biasa dibantu, diturut dan dipermudah orang lain. Oleh karena itu di dalam proses belajar pun, anak manja akan seperti parasit yang selalu menyerap bantuan orang lain. Dia malas belajar, malas berpikir, malas mengerjakan tugas dan kurang inisiatif serta tidak kreatif.

Anak manja akan menjadi murid yang sensational, yaitu berusaha menarik perhatian guru dan murid-murid lainnya tapi bukan karena prestasi belajarnya, tetapi dengan pameran makanan, minuman atau mainan miliknya, bahkan pameran keuangan dan kekayaan kalau perlu.

Pendidik harus berusaha menyadarkan anak manja itu bahwa dia sama dengan murid lainnya di dalam memperlakukan seluruh muridnya. Pendidik jangan menolong anak manja itu. Misalnya di dalam perbaikan nilai, harus didiskusikan dulu dengan wali kelas dan kepala sekolah. Pendidik harus berusaha membangun kepercayaan diri dari anak manja itu. Pendidik juga harus mendorong terciptanya rasa sosial, kebersamaan, inisiatif dan kreativitas dari anak manja itu.

Dewan guru juga harus mampu mengadakan pendekatan untuk memberikan pengarahan kepada orang tua siswa agar sejak dini tidak membiasakan diri memanjakan anak-anaknya. Dewan guru juga harus mewaspadai akan adanya campur tangan orang tua yang akan ikut mempengaruhi prestasi belajar murid yang kebetulan dimanjakan orang tua tersebut. Hingga nama baik sekolah dan harga diri dewan guru jadi kurang simpati masyarakat.

Akan tetapi, walau bagaimana pun, berdasarkan penelitian psychoanalyze, sumber masalah anak-anak manja yang berulah nyeleneh di sekolah adalah salah orangtua, terutama ibu. Anak manja adalah accumulation affected dari perilaku negative orangtuanya.

Adapun solusi untuk para orangtua agar tidk terjebak ke dalam pola asuh yang terlalu memanjakan anak, adalah sebagai berikut:

  • Jangan jadi orangtua yang lemah,
  • Evaluasi semua permintaan, keinginan dan kemauan anak,
  • Beri anak rasa tanggungjawab,
  • Ubahlah pikiran Anda mengenai anak dari “dia anak yang lemah” menjadi “dia anak yang kuat”,
  • Tegas dan konsisten di dalam menerapkan disiplin,
  • Ajak anak kita bertukar pikiran,
  • Libatkan ayah sebagai orangtua lelaki dalam banyak hal menyangkut penerapanpendidikan anak dalam keluarga.

Daftar Pustaka:

Purwanto, MP. Drs. M. Ngalim, 1997, Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis, Edisi Kedua, PT Remaja Rosdakarya Bandung

Edukasia, Edisi II Oktober 2008, Menjadikan Anak Tidak Manja dari Anda, halaman 44 – 45

Tidak ada Komentar

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. TrackBack URI

Tinggalkan komentar

CommentLuv Enabled