Senandung Doa di Malam Takbiran
Pundak berkalang usia
bahu di penghujung waktu
keriput kulit semakin tampak
bias bayang-bayang di masa silam Read more »
Pundak berkalang usia
bahu di penghujung waktu
keriput kulit semakin tampak
bias bayang-bayang di masa silam Read more »
Kakiku Guruku
{My Foot My Tutor}
Karya: Peter Handke
Versi Inggris: Michael Roloff
Versi Indonesia: Denny Rachmat
Ward: Anak Angkat / Anak Asuh
Warden: Bapak Angkat / Orang Tua Asuh
Apa, kataku, kakiku guruku?
-SHAKESPEARE, “Prahara” (the Tempest)
Layar terbuka.
Hari cerah.
Di belakang pentas kita melihat, halaman depan sebuah rumah pertanian, sebagai backdrop.
Pentas itu tidak dalam.
Sisi kiri pentas, dari titik pandang kita, dipertontonkan pemandangan kebun jagung.
Sisi kanan pentas, dari titik pandang kita, direka-reka oleh pemandangan kebun bit yang luas.
Burung-burung berkicau di atas kedua kebun itu.
Di depan rumah pertanian itu kita melihat sebuah benda panjang yang aneh, dan kita bertanya sendiri benda itu akan memperlihatkan apa.
Selembar bungkus karet, hitam, menutupi sebagian benda itu; namun tidak pas seperti sarung tangan, sehingga kita tidak bisa menerka benda di pentas itu memperlihatkan apa. Read more »
Cerpen: “Les Piano”
Karya: David Michael Kaplan
Terjemahan: Denny Rachmat
KETIKA umurku tujuh tahun, ibu memaksa aku harus les piano. Alasannya? Entahlah. Kami punya piano warisan paman ibuku, berukuran biasa di sisi beranda. Kukira, ibu merasa bahwa warisan itu harus dimanfaatkan. Ayahku menolak gagasan ibu. Read more »
MINTA TOLONG
KARYA: PETER HANDKE
TERJEMAHAN: DENNY RACHMAT
Meskipun jumlah orang yang ikut andil dalam Sprechstück (“permainan kata”) ini tidak terbatas, tapi membutuhkan paling sedikit dua pembicara (pria atau wanita). tujuan pembicara adalah memperlihatkan cara mencari kata TOLONG, suatu cara yang menggiring kepada banyak kalimat dan kata-kata. para pembicara memainkan betapa perlunya minta tolong, akan tetapi, tanpa benar-benar memerlukan pertolongan; mereka memainkan keperluan itu secara akustik. sementara itu perilaku terhadap kata tolong didemonstrasikan, kalimat dan kata-kata tidak diucapkan dengan maksud dan tujuan sebagai mana biasanya, tapi hanya untuk mempertegas bahwa tolong sedang dibutuhkan. sementara, para pembicara yang mencari kata tolong itu membutuhkan pertolongan; jika mereka menemukan kata tolong, mereka tidak lagi membutuhkan perolongan. sebelum mereka menemukan kata, mereka minta tolong, padahal, ketika mereka menemukan kata tolong mereka hanya mengucapkan tolong tanpa perlu meminta tolong lagi. ketika mampu meneriakan tolong, mereka tidak perlu lagi berteriak minta tolong; mereka bebas kalau mereka bias berteriak tolong. kata TOLONG telah kehilangan maknanya. Read more »